Saturday, October 24, 2015

Menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik



   Unsur intrinsik


 1.  Watak tokoh

        Perwatakan tokoh adalah karakter atau sifat yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku tokoh           dalam cerita.
    

Pengarang menggambarkan watak tokoh melalui:

1)    Penjelasan langsung dari pengarang (tertulis) bahwa tokohnya berwatak jujur,                  pemarah, sadis, dengki, licik, kikir, humoris, sombong, bijaksana, rapi, dan lain-lain.
     Misal: Intan namanya. Dia anak yang cantik, anggun, pintar, kaya, baik hati, dan ceria.        Dia anak yang sempurna, tapi hanya satu kekurangannya, yaitu tidak mempunyai tubuh        yang sehat. Sekarang dia duduk di kelas XI SMA.

2)    Dialog antartokoh: apa yang diucapkan tokoh dengan tokoh lain
     Misal: "Apa yang tidak Ibu berikan padamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu.        Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tak pernah melarangmu            melakukan apa saja yang kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban utamamu adalah      belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!" Di luar dugaannya anak itu menatapnya dengan berani.          "Ibu tak perlu susah payah menghidupi aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah          dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi."

3)    Pikiran-pikiran tokoh: jalan pikiran tokoh
     Misal: Ia ingin menemui anak gadisnya itu tanpa ketakutan; ingin ia mendekapnya, mencium bau      keringatnya. Dalam pikirannya, cuma anak gadisnya yang masih mau menyambut dirinya. Dan            mungkin ibunya, seorang janda yang renta tubuhnya, masih berlapang dada menerima                          kepulangannya.

4)    Lingkungan kehidupan tokoh
     Misal: Desa Karangsaga, desa Tarjo dilahirnya tidak kebagian aliran listrik. Padahal, kampung-          kampung tetangganya sudah  terang semua. Desa Tarjo gelap gulita kalau malam hari.

5)    Penggambaran fisik tokoh
     Misal: Dara gadis yang berparas cantik. Tubuhnya tinggi semampai. Kulitnya putih bersih. Tak          hanya itu rambut panjangnya menambah keanggunannya. Tak heran ia terpilih menjadi salah satu      model majalah remaja.

6)    Penggambaran bahasa tokoh
     Misal: kata-katanya sering membuat merah orang yang mendengarnya. Teriakan                                  mengancam megitu mudah mengucur dari mulutnya sehingga sering membuat orang-                          orang yang baru mengenalnya menjadi takut. Logatnya memang tidak seperti orang-                            orang kebanyakan. Ia seperti orang dari daerah pedalaman.


       2 .Tema: 
               Pokok pikiran atau ide yang melandasi suatu cerita.

Contoh:
“Kami adalah bangsa yang bertakwa kepada Tuhan. Adalah keyakinan kami bahwa hak-hak yang diberikan kepada kami oleh Tuhan  harus kami bela, dan itu berarti kami agungkan ciptaan-Nya dan menyelamatkan amanat suci-Nya. Perjuangan ini adalah perjuangan untuk menegakkan kembali keadilan Tuhan yang telah dinodai dengan penjajahan, perbudakan, dan pemerasan. Inilah yang meneguhkan hati kami. Inilah sumber ketabahan kami,” kata Moertono.
Tema: keteguhan seorang pejuang.

                    3 .  Latar : 
                  segala keterangan yang berhubungan dengan waktu, tempat, dan suasana.

Contoh:
Pada pagi harinya semua orang sudah berkumpul dan bersiap mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasnya. Sementara itu, kedua mempelai didandani secantik mungkin untuk disandingkan di pelaminan. Setelah semuanya selesai, acara segera dimulai. Para undangan pun berdatangan silih berganti. Suasana makin ramai setelah alunan gamelan mengiringi pesta tersebut.


     4.Sudut pandang: pusat pengisahan
          Sudut pandang pengisahan orang pertama dan orang ketiga

1)    Sudut pandang orang pertama (terbatas)
Ciri-ciri:
-       Menggunakan kata ganti orang pertama: aku, saya, kami
-       Pengarang tampil menyampaikan kisah yang dialami sendiri.
1.1.        Orang pertama sebagai pelaku utama
Pengarang terlibat langsung dalam menyampaikan kisahnya dan berperan sebagai tokoh atau pelaku utama: orang pertama mengisahkan dirinya sendiri.
Contoh:
Aku mulai mempersiapkan perkawinanku. Bahan kebaya mulai kupilih. Surat-surat pun sudah kuurus. Aku berharap semua akan berjalan secara lancar.
1.2      Orang pertama sebagai pengamat
Pengarang terlibat langsung dalam menyampaikan kisah yang melibatkan dirinya, tetapi bukan sebagai tokoh utama, melainkan hanya berperan sebagai pengamat langsung. Jadi, orang pertama mengisahkan tokoh lain.
Contoh:
Inilah terakhir kali kulihat Sersan Husni ketika muncul di rumah lepas isya dan lenyap tatkala langit gelap seperti karbon. Sudah tiga bulan tidak bertemu. Air mukanya lebih garang ketimbang semula. Mengingatkan aku kepada mandor tebu perkebunan Colomadu yang pernah mengusir kami sehingga berhamburan. Ibu tidak lupa akan nazarnya, potong ayam andaikata sersan selamat tidak kurang suatu apapun.
Berdasarkan cerita di atas:
Tokoh aku berperan sebagai penyampai kisah, sedangkan tokoh Husni berperan sebagai tokoh yang dikisahkan.

 2)    Sudut pandang orang ketiga
Ciri-ciri:
-       Menggunakan kata ganti orang ketiga: ia, dia, atau nama
-       Pengarang tidak tampil langsung dalam kisah, tetapi menghadirkan tokoh lain sebagai pengisah.
2.1       Orang ketiga serbatahu
            Pengarang berusaha melaporkan semua aspek dari suatu kisah. Ia melaporkan semua karakter, ruang, dan apa saja yang menarik perhatian dan sesuai dengan cerita.
            Contoh:
            Diperiksanya sekali lagi, lebih cermat, lebih teliti. Hasil pemeriksaan seperti tadi juga. Sehat. Heran, ajaib. Terpikir ia, jika ia pakai ilmu psikiatrinya, amat boleh jadi Kus ini sakit buat-buatan agarorang belas kasihan atau ada maksud tersembunyi. Perihal Kus, ia telah mengenalnya bertahun-tahun. Dahulu, Kus menjadi pelajar Sekolah Hakim Tinggi. Ia seorang yang lekas goncang pendiriannya, kurang teguh.
            Berdasarkan cerita, tokoh ia mengetahui segala hal tentang Kus.
2.2.      Orang ketiga terarah
            Pengarang tidak melaporkan semua aspek, tetapi memusatkan perhatian pada satu karakter yang berhubungan dengan cerita.
            Contoh:
            Suwarni beryanyi. Suaranya halus, tenang. Ia bernyanyi berirama mesra seorang ibu. Suwarni menidurkan anaknya, membelai si kecil di dadanya sehingga tangan yang kecil montok itu tak lagi bergerak-gerak. Suwarni melihat kepada anaknya. Ia tak bosan-bosannya memandango tubuh kecil itu.
            Berdasarkan cerita: pengisah memusatkan perhatian pada Suwarni.





            5 .   Alur (Jalan cerita)
        Jenis alur: maju, mundur, campuran

          Tahapan alur:
1)    Eksposisi: pengarang memperkenalkan latar dan tokoh cerita beserta karakternya
2)    Intrik : meuncul suatu masalah (konflik dimulai)
3)    Komplikasi : masalah kecil yang terus menanjak, semakin rumit
4)    Klimaks : puncak masalah
5)    Antiklimaks : penurunan ketegangan konflik (peleraian)
6)    Resolusi: akhir cerita






        6 . Konflik 
                Pertikaian atau pertentangan antara dua karakter tokoh yang berbeda)

           Jenis konflik:
1)    Konflik batin: pertentangan antara pelaku dengan dirinya sendiri.
2)    Konflik sesama pelaku: pertentangan antara pelaku dengan pelaku lain
3)    Konflik dengan alam atau lingkugannya: ketika pelaku cerita menghadapi dan mengatasi masalah yang disebabkan lingkungan atau alam.

           7 . Amanat  
                  Pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca. (Berupa saran)



         Unsur ekstrinsik

1)  Latar belakang pengarang: menyangkut asal daerah atau suku bangsa, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, dan ideologi pengarang. Unsur-unsur ini sedikit banyak akan berpengaruh pada isi novelnya.
2)    Kondisi sosial budaya: novel yang dibuat pada saat zaman kolonial akan berbeda dengan novel pada zaman kemerdekaan, atau pada masa reformasi.
3)    Tempat atau kondisi alam: novel yang dikarang oleh pengarang yang tinggal di pantai berbeda dengan pengarang yang tinggal di daerah pegunungan.


Nilai-nilai:

1)    Nilai moral: nilai yang berhubungan dengan perbuatan baik atau buruk, etika, dan budi pekerti.
2)    Nilai sosial: nilai yang berhubungan dengan norma dalam kehidupan bermasyarakat, misa: suka menolong atau suka membantu.
3)    Nilai keagamaan: sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan ibadah, kepercayaan, atau unsur ketuhanan.


4)    Nilai budaya: sesuatu yang berhubungan dengan adat-istiadat atau kebiasaan yang bernilai tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.


Ok sekian post saya mengenai "Menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik" ini,semoga post saya dapat bermanfaat bagi semuanya,mohon maaf jika masih banyak kesalahan dan  jangan lupa beri komentar dan selamat belajar!!!
         
“Let us study things that are no more. It is necessary to understand them, if only to avoid them.”        Victor HugoLes Misérables

                                   



No comments:

Post a Comment